Total Tayangan Halaman

Jumat, 17 Maret 2023

Pentigraf SUARA KAKI SIAPA? Ridhan Hadi

 

Pentigraf

SUARA KAKI SIAPA?

Ridhan Hadi


Saat itu suasananya begitu mencekam. Tak banyak yang bisa selamat. Mayat bergelimpangan dimana-mana. Bau amis darah tercium begitu tajam. Hanya mereka berdua saja yang berhasil lolos, tak ada yang lain. Mereka terus mencari tempat persembunyian. Berharap bisa selamat dari Kejaran Musuh. 


Persenjataan mereka sudah menipis, tenaga mereka sudah hampir habis. Mereka bersembunyi di balik gedung tua yang hampir roboh. Merencanakan strategi bagaimana mendapatkan tambahan amunisi kembali. Jika harus keluar pasti diserang. Posisi mereka sudah berada dalam kepungan musuh. Tampaknya tinggal menunggu Ajal.


Terdengar suara kaki melangkah mendekati ruangan tempat mereka bersembunyi. Prak..!!! suara pukulan itu tepat kena di kepala Andi. "Cepat bangun berangkat pergi Les Baca Quran. Ustaz Mu sudah menunggu" kata ibunya menghentikan Andi main game Free Fire dari tiga jam yang lalu.


Pentigraf DURHAKA Ridhan Hadi

 Pentigraf

DURHAKA

Ridhan Hadi


Ustaz Ahmad adalah orang yang sangat dikenal baik di kampungnya, dia selalu pergi ke masjid untuk mengerjakan shalat berjamaah. menghandle acara keagamaan, Memberikan ceramah kepada jamaah masjid, dan kadang mengisi khotbah di kampung sebelah. Namun jauh berbeda dengan istrinya. Dia malah jadi tukang gosip dan biang keributan di kampung. Dia sama sekali tidak menjaga marwah suaminya sebagai seorang Ustaz. Berulang kali diberi peringatan agar tidak mengerjakan keburukan lagi. Namun hasilnya nihil, Ustaz Ahmad malah menjadi sasaran cacian dan makian. 


Ustaz Ahmad sebenarnya sudah bosan dengan tingkah istrinya itu, disamping sering ngomel, membantah, jarang sholat, sumpah palsu dan senang sekali bergosip. Istrinya juga sering komentar miring bahkan mencibir Ustaz Ahmad. Dari masalah selalu sholat di masjid padahal ada rumah untuk sholat, ceramahi diri sendiri dulu baru ceramahi orang. sampai harta yang tak bisa bertambah. Menjadi bahan gosip istrinya di emperan rumah tetangga. 


Istrinya juga tidak pernah mau mengalah. Harus Ustaz Ahmad yang legowo menerima logika yang tidak masuk akal dari istrinya itu. Ayat dan Hadits sepertinya tak mempan baginya. Sungguh berat ujian Ustaz Ahmad. Begitu cerita tetangganya tadi sore selepas beliau dimakamkan. Ustaz Ahmad meninggal tadi malam di rumahnya. Kabarnya terkena serangan jantung dan hipertensi. 

Pentigraf "TAKDIR" Ridhan Hadi

 Pentigraf

"TAKDIR"

Ridhan Hadi


Aku masih ingat jelas tadi malam saat pak Ahmad bercerita tentang Pak Rudi yang terkena kanker. Sekembalinya kami dari menjenguk Pak Rudi. Berat sekali ujian yang dialami Pak Rudi.


Dia bercerita bahwa Kanker itu sudah menggerogoti Pak Rudi hampir dua bulan. Begitu cepat menyebar, bahkan sudah ada bau tak sedap dari sekujur tubuhnya. Satu persatu bagian tubuhnya harus terpaksa diamputasi menjaga bagian lain tidak terkontaminasi oleh jaringan kanker yang mematikan itu. 


Dokter mendiagnosanya terkena kanker "Sarkoma Tulang" dan Kanker paru-paru. Bahkan untuk kanker paru-parunya sudah stadium lima. Mungkin dia tidak akan bertahan lama. Sepertinya kematian akan menjemputnya dua atau tiga hari lagi. Begitu cerita Pak Ahmad sebelum meninggal karena serangan jantung tadi malam. 

Pentigraf SALAH MENGIRA Ridhan Hadi

 

Pentigraf

SALAH MENGIRA

Ridhan Hadi



Pak Rudy yakin istrinya tidak akan kurang ajar hari ini, karena baru kemarin diberikan terapi. Sekali tampar bisanya akan membuat dia merenung dan menyadari kesalahannya.


Biasanya penyakit kurangajar istrinya akan kambuh pada hari ketiga setelah tamparan. Jadi Pak Rudy cukup santai hari ini. Dia yakin istrinya akan melayani dengan baik.


Pak Rudy duduk di ruang tamu menunggu istrinya datang membawa makan siang. Tiba-tiba..."Ni, makan siangmu...!!" Kata istrinya berteriak sambil melempar roti ke muka Pak Rudy. Pak Rudy melotot menahan emosi. Ternyata istrinya kambuh lebih cepat dari perkiraan.

"Lelah"

 Lelah


Dengarkan wahai malam 

Aku akan jujur padamu 

Tak sanggup Aku terjebak dalam lipatan

Sudah hampir tak terhitung

berapa kali sakit itu datang


Dalam tawa Aku menjerit

Berdusta akan rasa yang aku alami 

Lelah adalah kata yang paling tepat 

Benci sudah tak mampu ku umpat lagi 

Dasar kau perangai bejat

Rasa sakitnya sedikitpun kau tak ingat 


Ketika itu kau berkata aku akan bertaubat 

Aku tidak berpikir panjang

kata maaf pun kuberi tanpa syarat

Tak sampai tiga hari

Perangai bejatmu pun muncul kembali 

Seribu kali bukan hitungan lagi baginya 

Karena dia akan tetap mengulanginya 


Entah setan apa dalam dirinya

hingga berulang kali dianggap satu kali 

Siapa yang sanggup bersamanya

Tiada hari tanpa amarah 

Badai kehancuran datang menghantui

Itu sungguh menjijikkan.

Hari Guru Nasional di SMKN 7 MATARAM